Tantangan Gerakan Islam dan Masa Depan Ummah dalam Perubahan Geopolitik Dunia

Abdullah A. Afifi
– Peneliti Darulfunun Institute Payakumbuh, Indonesia
– Ketua Biro Cendekiawan Minang Malaysia
Ijtimai ABIM–WADAH 2026 yang diselenggarakan di Universiti Putra Malaysia (UPM) berlangsung di tengah dunia yang sedang mengalami perubahan geopolitik yang semakin kompleks. Pergeseran kekuatan global, konflik yang berkepanjangan, persaingan ekonomi dan teknologi, serta munculnya konfigurasi kekuatan baru tidak lagi dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan hubungan antarnegara. Perubahan tersebut juga membawa pertanyaan mendasar bagi umat Islam: bagaimana gerakan Islam membaca perubahan zaman, membangun kekuatan umat, dan mengambil peran dalam menentukan masa depan?
Dalam kesempatan ini, penulis hadir sebagai bagian pemerhati WADAH Negeri Sembilan, sekaligus mengikuti Seminar Antarbangsa yang menjadi rangkaian Ijtimai sebagai ruang untuk melihat dari dekat dinamika pemikiran dan gerakan Islam di Malaysia. Kehadiran ini dimungkinkan atas kesempatan yang diberikan oleh Dato’ Md Fiah, Dato’ Ismail, serta seluruh tim WADAH Negeri Sembilan. Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas keterbukaan serta kesempatan yang diberikan untuk bersama-sama mengikuti pertemuan ini. Dari posisi sebagai pemerhati, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai representasi resmi WADAH maupun ABIM, melainkan sebagai catatan reflektif terhadap gagasan dan persoalan yang mengemuka dalam Ijtimai.

Pertanyaan “peran” ini menjadi semakin penting karena dunia yang dihadapi gerakan Islam hari ini berbeda dengan dunia ketika banyak organisasi Islam modern lahir. Jika pada masa lalu tantangan utama berkaitan dengan kolonialisme, kemerdekaan, pendidikan umat, kemiskinan, dan pembentukan identitas, maka hari ini medan perubahan jauh lebih kompleks.
Kekuasaan tidak hanya berada di tangan negara. Ia juga berada pada teknologi, modal, data, jaringan korporasi, media, kecerdasan buatan, dan institusi pengetahuan. Bahkan cara manusia memahami realitas semakin dipengaruhi oleh algoritma dan platform digital.
Dalam konteks tersebut, Ijtimai ABIM–WADAH 2026 tidak hanya dapat dipahami sebagai forum pertemuan organisasi dan tokoh-tokoh gerakan Islam. Lebih jauh, ia dapat dibaca sebagai ruang untuk melakukan refleksi tentang posisi gerakan Islam di tengah perubahan dunia yang bergerak sangat cepat.
Dunia Berubah, Apakah Gerakan Islam Juga Berubah?
Salah satu persoalan mendasar yang perlu direnungkan adalah kemampuan gerakan Islam dalam membaca perubahan.
Dunia bergerak dari struktur kekuatan global yang relatif sederhana menuju tatanan yang semakin multipolar dan kompleks. Negara-negara besar berkompetisi dalam teknologi, ekonomi, keamanan, energi, dan pengaruh politik. Negara-negara berkembang berusaha memperluas ruang strategisnya. Sementara itu, masyarakat sipil dan aktor nonnegara semakin memiliki pengaruh dalam membentuk opini dan agenda publik.
Namun, perubahan struktur global tersebut belum tentu secara otomatis meningkatkan posisi umat Islam.
Dunia Islam memiliki jumlah penduduk yang besar, sumber daya alam yang strategis, posisi geografis yang penting, dan pasar yang luas. Tetapi semua modal tersebut belum selalu berubah menjadi kemampuan untuk menentukan agenda sendiri.
Di sinilah persoalan “muslim agency” menjadi penting. Perbincangan yang akan penulis bahas dalam tulisan-tulisan dihadapan, sambil menyusun cara penyampaiannya sebagai satu konsep yang disusun dari Pemikiran Islam Kontemporer, dari Muhammad Iqbal, hingga kini. Pengembangan konsep dan bahasan ini penulis juga berterimakasih kepada Dr. Alinor dan Dr. Razak yang memfasilitasi wujudnya wacana-wacana ilmiah pemikiran Islam kontemporer untuk diangkat dan dibentangkan kembali.
Apakah umat hanya menjadi konsumen dari perubahan global, atau mampu menjadi aktor yang ikut membentuknya? Pertanyaan ini seharusnya menjadi salah satu agenda penting gerakan Islam dimanapun kedepannya.


Dari Mobilisasi Massa Menuju Pembangunan Kapasitas
Gerakan Islam memiliki sejarah panjang dalam melakukan mobilisasi masyarakat. Dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, solidaritas kemanusiaan, dan perjuangan politik telah menjadi bagian penting dari perjalanan gerakan Islam modern.
Namun, tantangan hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan untuk menggerakkan massa. Umat membutuhkan kapasitas untuk tidak menjadi sekedar buih di lautan.
Kapasitas untuk menghasilkan pengetahuan. Kapasitas untuk membangun institusi. Kapasitas untuk menciptakan teknologi. Kapasitas untuk mengembangkan ekonomi. Kapasitas untuk melahirkan pemimpin. Dan yang terpenting adalah kapasitas untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan gerakan Islam kedepan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kegiatan yang dilakukan atau banyaknya orang yang hadir dalam sebuah acara.
Pertanyaan yang lebih penting adalah mengenai impak (kebermanfaatan): berapa banyak manusia yang menjadi lebih berilmu, lebih mandiri, lebih produktif, dan lebih mampu memberikan manfaat setelah berinteraksi dengan gerakan tersebut?
Dengan perspektif ini, gerakan Islam perlu bergerak dari paradigma mobilisasi menuju pembangunan kapasitas. Mobilisasi tetap penting, tetapi mobilisasi harus menjadi pintu menuju transformasi sosial yang lebih permanen.
Dari Solidaritas Menuju Institusionalisasi
Perubahan geopolitik dunia juga memperlihatkan semakin kompleksnya persoalan kemanusiaan. Konflik, kemiskinan, pengungsi, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan berbagai bentuk krisis sosial membutuhkan respons yang tidak bersifat sesaat.
Solidaritas umat tentu penting. Namun solidaritas yang hanya muncul ketika krisis terjadi memiliki keterbatasan, karena hanya bersifat insidental. Yang dibutuhkan kedepannya adalah solidaritas yang dilembagakan.
Dalam konteks Islam, potensi zakat, wakaf, sedekah, filantropi, pendidikan, kewirausahaan sosial, dan ekonomi umat dapat menjadi instrumen penting untuk membangun ketahanan masyarakat.
Umat tidak hanya membutuhkan bantuan ketika mengalami kesulitan. Umat membutuhkan institusi yang mampu mencegah agar masyarakat terus berada dalam ketergantungan. Membangun dalam konsistensi yang panjang.
Bukan hanya memberikan beasiswa, tetapi membangun ekosistem pendidikan. Bukan hanya mengumpulkan bantuan kemanusiaan, tetapi membangun institusi kemanusiaan. Bukan hanya berbicara mengenai ekonomi Islam, tetapi membangun model ekonomi yang menciptakan pekerjaan, produktivitas, pemerataan, dan kesejahteraan.
Di sinilah gerakan Islam perlu memperkuat dimensi institusionalisasi gerakan.
Tantangan Teknologi dan Ekonomi Digital
Perubahan geopolitik hari ini juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Kecerdasan buatan, otomatisasi, ekonomi digital, big data, platform ekonomi, dan teknologi finansial sedang mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi. Perubahan ini membawa peluang sekaligus risiko.
Bagi umat Islam, pertanyaannya bukan sekadar apakah umat mampu menggunakan teknologi. Pertanyaannya adalah apakah umat mampu menguasai, menciptakan, dan menentukan arah penggunaannya. Jika umat hanya menjadi pengguna teknologi yang diciptakan pihak lain, maka ketergantungan baru dapat muncul dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu, agenda pendidikan gerakan Islam harus diperluas. Pendidikan agama adalah dasar, tetapi harus berjalan bersama pengembangan kapasitas, baik literasi teknologi, ekonomi, sains, data, kewirausahaan, dan kemampuan berpikir kritis.
Gerakan Islam membutuhkan generasi yang memahami agama sekaligus mampu memahami dunia, dalam satu integrasi pandangan keilmuan.
Antara Identitas dan Relevansi
Gerakan Islam juga menghadapi tantangan lain: bagaimana mempertahankan identitas tanpa kehilangan relevansi. Identitas memberikan akar. Namun identitas tanpa kemampuan membaca perubahan dapat membuat gerakan terjebak dalam romantisme masa lalu.
Sebaliknya, adaptasi tanpa prinsip dapat membuat gerakan kehilangan arah. Karena itu, persoalannya bukan memilih antara tradisi dan modernitas. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam diterjemahkan menjadi kemampuan untuk menjawab persoalan modern.
Di sinilah konsep tajdid menjadi relevan. Pembaharuan tidak berarti meninggalkan tradisi, tetapi membaca kembali prinsip-prinsip dasar Islam dan menghubungkannya dengan realitas baru. Mengaitkan konteks yang saat ini terasa hilang dalam pembahasan.
Islam tidak hanya perlu menjadi sumber identitas, tetapi juga sumber gagasan, etika, institusi, dan solusi bagi persoalan masyarakat.
Membangun Muslim Agency
Pada akhirnya, tantangan terbesar gerakan Islam mungkin bukan sekadar bagaimana mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi bagaimana membangun Muslim agency, yakni membangun satu konsep bahwa muslim adalah agen perubahan, bukan serta merta menjadi penikmat dari hasil perubahan tersebut.
Agency berarti kemampuan untuk bertindak sebagai subjek, bukan sekadar objek. Umat Islam tidak seharusnya hanya menjadi sasaran kebijakan global, konsumen teknologi, pasar ekonomi, atau penonton perubahan geopolitik. Umat perlu menjadi pencipta pengetahuan. Menjadi pengembang teknologi, menjadi pelaku ekonomi, menjadi pembangun institusi, menjadi produsen gagasan, dan menjadi aktor yang mampu menawarkan alternatif bagi persoalan kemanusiaan.
Karena itu, masa depan gerakan Islam perlu diarahkan bukan hanya pada pertanyaan “apa yang harus kita lawan?”, tetapi juga “apa yang harus kita bangun?”
Pertanyaan kedua ini yang akan membawa umat berusaha jauh dan menentukan masa depan.
Menatap Masa Depan Ummah
Ijtimai ABIM–WADAH 2026 di UPM pada akhirnya dapat dibaca sebagai bagian dari percakapan yang lebih besar mengenai masa depan umat Islam. Dunia sedang berubah. Perubahan itu tidak dapat dihentikan, tetapi dapat dibaca, diantisipasi, dan direspons. Karena itu, tugas gerakan Islam bukan sekadar bertahan dari perubahan, tetapi mempersiapkan umat agar mampu hidup dan berkontribusi di dalamnya.
Gerakan Islam masa depan membutuhkan kombinasi antara iman dan ilmu, identitas dan keterbukaan, idealisme dan institusi, dakwah dan pembangunan, solidaritas dan kemandirian. Gerakan Islam juga perlu bergerak dari sekadar defending the ummah menuju developing the ummah; dari reaksi menuju inisiatif, dari mobilisasi menuju pembangunan kapasitas; dan dari mempertahankan identitas menuju pembangunan peradaban.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan apakah dunia akan berubah. Dunia pasti berubah. Pertanyaannya adalah: Apakah umat Islam hanya akan menjadi penonton dari perubahan tersebut, atau mampu menjadi salah satu aktor yang ikut menentukan arah masa depan?
Pertanyaan inilah yang semestinya terus dibawa pulang, bukan hanya sebagai bahan diskusi, tetapi sebagai agenda kerja gerakan Islam untuk tahun-tahun yang akan datang.
Serdang, 28 September 2026



