Sentra Produk Kulit Sukaregang Garut dari Perspektif Ekonomi Politik

Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia
“Kalau Anda takut kehilangan uang, jangan masuk bisnis. Tapi kalau Anda takut tidak berkembang, tetaplah di sana.” (NN)
Masa Muda Idealis
Terkenang masa remaja mentah usia dan pengalaman, namun memiliki idealisme yang kuat untuk menggali potensi ekonomi rakyat Jawa Barat.
Selain bicara topik khas remaja tentang geulisnya mojang Priangan, juga selalu terselip masalah ekonomi rakyat dan potensi pasar. Topik yang tidak keren bagi remaja ketika itu. Meskipun kami tetap bergaya tren dengan rambut gondrong, celana cutbray, dan sepatu sol tinggi mirip “tengkelek”.
Pada tahun 70 an kami sering “blusukan” ke desa-desa kerajinan bordir dan berbagai usaha rakyat yang dinamis, namun miskin pasar.
Dengan berjalannya waktu, ternyata kemudian sebagian sahabat dimaksud muncul jadi pejuang ekonomi rakyat antara lain di Cibaduyut, Cihampelas, Majalaya, pasar-pasar tradisional, dan segelintir sukses di level korporasi.
Sentra Industri Kulit Sukaregang, Garut
Berdasarkan data resmi Pemerintah Kab. Garut, terdapat 417 unit usaha (formal dan non-formal) yang bergerak di sektor industri pakaian jadi dan kerajinan kulit di Kabupaten Garut.
Hasil produk kulit spesifik berupa jaket kulit, tas, sepatu, sandal, dan dompet. Bahan baku mayoritas menggunakan kulit domba dan sapi khas Garut. Usaha-usaha ini mampu menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja.
Sentra Industri Kulit Sukaregang memiliki sejarah panjang sejak zaman kolonial dan kini menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif andalan Garut.
Industri ini berawal dari inisiatif keluarga lokal yang memanfaatkan limbah kulit untuk keperluan pribadi. Di masa kolonial, keahlian menyamak kulit mulai diajarkan secara lebih sistematis oleh Belanda untuk memproduksi kebutuhan seperti pelana sepeda, sepatu, dan terompah bagi kaum ningrat. Mirip dengan kerajinan industri kulit tradisional di Fez, Maroko.
Perkembangan Era 1970-an, kawasan Sukaregang yang awalnya hanya dihuni oleh beberapa perajin mulai bertransformasi menjadi area pertokoan. Karena kualitasnya yang bagus dan pasokan kulit domba lokal yang melimpah, minat masyarakat terus melonjak.
Pada tahun 2025, mengingat keahliannya yang diwariskan turun-temurun sejak era kolonial, Pemerintah Provinsi menetapkan Kerajinan Kulit Sukaregang sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat.


Sinergitas Sukaregang Dan Cibaduyut
Dari perspektif ekonomi politik, terdapat kaitan historis dan rantai bisnis ekonomi rakyat yang sangat kuat antara Sentra Industri Kulit Sukaregang (Garut) dan Sentra Sepatu Cibaduyut (Bandung). Hubungan keduanya merupakan bentuk nyata dari interaksi ekonomi regional di Jawa Barat, di mana satu daerah berperan sebagai penyedia bahan baku dan daerah lainnya sebagai pengolah produk jadi.
(1). Hubungan Rantai Pasok (Supplier & Produsen): Secara bisnis, Sukaregang dan Cibaduyut terikat dalam hubungan hulu-hilir ekonomi rakyat.
Sukaregang unggul dalam industri penyamakan kulit (pengolahan kulit mentah menjadi kulit siap pakai). Cibaduyut sebagai Hilir dikenal sebagai sentra pembuatan alas kaki (sepatu dan sandal). Sejak puluhan tahun lalu hingga saat ini, banyak pabrik dan perajin sepatu di Cibaduyut menggantungkan pasokan bahan baku kulit sapi atau kerbau mereka dari para pengepul dan penyamak di Sukaregang, Garut.
(2). Migrasi Keahlian dan Aliran Pekerja (Zaman Kolonial – Pasca Kemerdekaan): Pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1920 an), kedua wilayah ini sama-sama mulai berkembang karena kebijakan ekonomi Hindia Belanda.
Banyak warga lokal Priangan (termasuk Garut) yang merantau ke Bandung untuk bekerja di pabrik-pabrik sepatu atau penyamakan kulit milik asing (seperti di kawasan Jatayu, Bandung). Setelah mereka mendapatkan ilmu dan keterampilan (transfer teknologi), sebagian perajin kembali ke kampung halaman mereka di Garut untuk mendirikan penyamakan kulit sendiri di Sukaregang. Sebagian lainnya menetap atau mengembangkan keterampilan pembuatan sepatu di wilayah selatan Bandung, yang kini menjadi Cibaduyut.
(3). Aliansi Dagang Informal: Sebelum era digital, para pedagang dan perajin dari kedua wilayah ini memiliki jaringan komunikasi informal yang kuat. Jika pengusaha Cibaduyut mendapatkan pesanan sepatu kulit dalam jumlah besar (misalnya untuk kebutuhan dinas militer atau sekolah), mereka akan langsung memesan lembaran kulit tiruan maupun asli ke Sukaregang dengan spesifikasi khusus. Sebaliknya, Sukaregang juga menyerap ilmu tren model sepatu dari Cibaduyut untuk diterapkan pada produk alas kaki lokal Garut.
Gempuran Produk Impor
Gempuran produk impor murah (terutama dari Tiongkok) sempat menekan pasar kedua sentra ini. Namun, Sukaregang dan Cibaduyut bertahan lewat strategi pertahanan yang sangat berbeda karena karakteristik produk mereka tidak sama.
1. Sukaregang (Garut) Lebih Tangguh Karena Faktor Keaslian Bahan: Sukaregang relatif lebih kebal terhadap hantaman produk impor. Jaket atau tas kulit asli Garut memiliki segmen pasar loyal yang mencari durabilitas dan gengsi (prestige) bahan kulit domba alami.
Ternyata Kompetitor terbesar Sukaregang bukanlah jaket kulit impor asli, melainkan jaket kulit sintetis/imitasi impor murah yang sekilas tampilannya mirip namun dijual jauh di bawah harga pasar.
Strategi Perajin beralih ke digitalisasi (penjualan via e-commerce dan media sosial), menawarkan layanan kustomisasi ukuran/desain secara cepat, serta mengandalkan statusnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
2. Cibaduyut (Bandung) Mengalami Tekanan Berat pada Produk Massal: Cibaduyut tetap diakui oleh pasar domestik untuk kategori sepatu bot, sepatu kerja formal (pantofel) kulit, serta pengerjaan sepatu dinas militer/instansi. Tantangan berat muncul Produk impor dari luar negeri merajai kategori sepatu olahraga (sport shoes) dan sneakers kasual berbahan kain/karet dengan harga tiruan yang sangat murah. Hal ini sempat membuat sebagian toko memajang produk impor sebagai pelengkap inventaris mereka.
Strategi bertahan para produsen lokal yang tersisa kini fokus pada kekuatan produk handmade (buatan tangan) yang solnya jauh lebih kuat dan nyaman dibanding produk impor murah. Mereka juga banyak menjadi produsen white label bagi brand-brand lokal modern anak muda di Bandung yang gencar melakukan pemasaran digital.
Pesan Buat Pemerintah dan Perajin
Dari perspektif ekonomi politik, Sentra industri kerajinan kulit seperti Sukaregang (Garut) dan Cibaduyut (Bandung) merupakan simbol ketahanan ekonomi lokal. Namun, banjir produk impor asal China—baik barang jadi maupun kulit sintetis murah—menjadi ancaman eksistensial bagi para pengrajin.
(1). Memperketat pengawasan masuknya barang impor ilegal (thrifting atau borongan murah tanpa standar) melalui bea cukai serta memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk alas kaki dan garmen kulit impor.
(2). Mewajibkan platform digital menerapkan transparansi identitas produk (memisahkan penjual impor langsung/cross-border dengan pengrajin UMKM lokal) untuk mencegah predatory pricing.
(3). Biaya bahan kimia impor untuk penyamakan kulit sering kali melambungkan biaya produksi. Pemerintah perlu memfasilitasi kemudahan impor bahan penyamak secara kolektif atau mendorong riset bahan penyamak alami/lokal.
(4). Memberikan kuota khusus pengadaan sepatu dinas, tas, atau perlengkapan ASN/TNI/Polri wajib berasal dari sentra kerajinan lokal seperti Cibaduyut dan Garut.
(5). Meningkatkan riset desain agar tidak terjebak pada model konvensional/jadul. Berkolaborasi dengan desainer muda atau mahasiswa kriya untuk menghasilkan produk urban, modern, dan ergonomis.
Sinergi antara kebijakan perlindungan dari pemerintah dan kehendak pengrajin untuk beradaptasi dengan selera zaman adalah kunci agar Sukaregang dan Cibaduyut tidak sekadar menjadi kenangan sejarah, melainkan pusat industri kreatif yang disegani di kawasan regional.🇮🇩
Garut, 9 Agustus 2026


