Refleksi Maal Hijrah: Dari Muhajirin Menjadi Ansar

Abdullah A. Afifi
– Kepala Biro Cendekiawan Minang Malaysia
Salah satu pelajaran paling berkesan dari peristiwa Hijrah bukan saja keberanian kaum Muhajirin meninggalkan Mekkah, tetapi juga keluasan hati kaum Ansar yang menyambut mereka di Madinah. Hijrah bukan sekadar kisah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan kisah tentang harapan, pengorbanan, dan kemanusiaan. Hijrah tidak hanya ditentukan oleh keberanian kaum Muhajirin. Ada pihak lain yang sering terlupakan, yaitu kaum Ansar di Madinah yang menyambut mereka dengan tangan terbuka.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa keberhasilan Hijrah tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berani meninggalkan tanah kelahiran, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membuka pintu dan memberikan ruang bagi kehidupan baru. Al-Qur’an mengabadikan sikap Ansar sebagai teladan persaudaraan yang melampaui ikatan suku, kabilah, dan kepentingan ekonomi. Mereka rela berbagi apa yang dimiliki meskipun diri mereka sendiri hidup dalam keterbatasan. Inilah salah satu fondasi utama peradaban Madinah yang kemudian menjadi model masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.
Pelajaran tersebut menjadi sangat relevan dalam dunia modern saat ini. Mobilitas manusia semakin tinggi, tetapi pada saat yang sama batas-batas negara semakin ketat. Jutaan orang berpindah karena pendidikan, pekerjaan, konflik, bencana, maupun alasan ekonomi. Namun perpindahan tersebut sering kali dihadapkan pada berbagai hambatan administratif, biaya yang tinggi, regulasi yang rumit, serta sentimen negatif terhadap pendatang. Di banyak negara, muncul dikotomi antara pendatang dan masyarakat lokal. Tidak sedikit yang memandang kehadiran orang luar sebagai ancaman terhadap lapangan pekerjaan, budaya, bahkan identitas nasional.
Padahal Islam telah berbicara tentang martabat manusia, perlindungan terhadap kaum yang berhijrah, dan hak-hak orang asing jauh sebelum dunia modern merumuskan konsep hak asasi manusia. Prinsip ukhuwah, ta’awun, dan penghormatan terhadap kemuliaan manusia menjadi bagian integral dari ajaran Islam. Hijrah Nabi Muhammad (saw) mengajarkan bahwa perpindahan manusia bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan potensi yang dapat memperkuat masyarakat apabila dikelola dengan prinsip keadilan dan persaudaraan.
Dalam konteks dunia Islam saat ini, sudah saatnya muncul pembahasan baru mengenai mobilitas umat Islam di antara negara-negara Islam. Dunia Islam memiliki populasi yang besar, sumber daya yang melimpah, serta ikatan sejarah dan budaya yang panjang. Namun perpindahan tenaga kerja, mahasiswa, peneliti, profesional, dan pengusaha Muslim masih menghadapi banyak kendala. Padahal sepanjang sejarah Islam, kemajuan ilmu pengetahuan, perdagangan, dan peradaban tumbuh melalui pergerakan manusia, pertukaran gagasan, serta keterhubungan antarwilayah.
Sudah waktunya negara-negara Islam memikirkan mekanisme yang lebih terbuka dan progresif untuk memfasilitasi pertukaran talenta, pendidikan, investasi, dan tenaga profesional di antara sesama negara Muslim. Bukan untuk menghapuskan kedaulatan negara atau batas-batas politik yang ada, melainkan untuk membangun ekosistem kerja sama yang lebih erat berlandaskan semangat persaudaraan. Dunia Islam membutuhkan lebih banyak Muhajirin yang membawa ilmu, pengalaman, dan inovasi. Namun pada saat yang sama, dunia Islam juga membutuhkan lebih banyak Ansar yang bersedia membuka ruang bagi tumbuhnya potensi tersebut.
Peringatan Tahun Baru Hijriah seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan nostalgia sejarah. Hijrah mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: jika hari ini ada Muhajirin yang datang mencari kesempatan, keamanan, atau kehidupan yang lebih baik, adakah semangat Ansar yang masih hidup dalam diri kita? Sebab kebangkitan suatu peradaban tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berani berhijrah, tetapi juga oleh mereka yang bersedia menyambut dan membangun masa depan bersama.
Salam Maal Hijrah,
Kuala Lumpur, 17 Juni 2026



