Kolom

Prophetic Ta’dib: Dari Rumah Tumbuh Keteladanan

Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A
– Pakar Bahasa Arab
– Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Pendahuluan: Rumah Yang Seharusnya Menenangkan

Rumah adalah tempat manusia kembali. Setelah berhadapan dengan berbagai persoalan di luar. Seseorang berharap menemukan ketenangan ketika sampai di rumah. Di sana ada keluarga, kasih sayang, perhatian, dan rasa aman.

Tetapi tidak semua rumah menghadirkan suasana seperti itu. Ada rumah yang besar dan nyaman secara fisik, tetapi penghuninya tidak merasa tenang. Ada keluarga yang terlihat baik dari luar, tetapi di dalamnya terdapat pertengkaran, bentakan, penghinaan, bahkan kekerasan. Anak sering menjadi pihak yang paling banyak melihat dan merasakan keadaan tersebut.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang pendidikan anak, perhatian tidak cukup diarahkan kepada anak. Kita perlu melihat rumah tempat anak itu tumbuh. Pertanyaannya sederhana, rumah seperti apa yang sedang membesarkan anak-anak kita?

Bahasa Arab memberikan gambaran yang menarik tentang rumah. Ada beberapa kata yang digunakan untuk menggambarkan rumah, antara lain bait, manzil, dār, dan sakan. Dalam kajian linguistik bahasa Arab, kata bait, manzil, dār, and sakan merupakan bentuk sinonim (taraduf) karena sama-sama merujuk pada konsep tempat tinggal, namun masing-masing memiliki titik tekan makna yang spesifik. Kata bait secara maknawi menekankan fungsi rumah sebagai tempat bermalam dan beristirahat, manzil merujuk pada tempat singgah atau menetap setelah melakukan perjalanan, dār menggambarkan area tempat tinggal yang lebih luas mencakup bangunan dan pekarangannya, sedangkan sakan menggarisbawahi fungsi rumah sebagai sumber ketenangan dan kedamaian jiwa bagi penghuninya. Perbedaan nuansa makna yang detail di antara kata-kata sepadan ini dibahas secara mendalam oleh para ulama klasik dalam kitab-kitab furuq al-lughawiyyah (perbedaan makna kosakata), salah satunya dalam kitab Al-Furuq al-Lughawiyyah karya Abu Hilal al-Askari (wafat 400 H).

Jadi kata bait berarti rumah atau tempat tinggal. Manzil berkaitan dengan tempat seseorang tinggal atau menetap. Dār memiliki pengertian yang lebih luas sebagai tempat kehidupan berlangsung. Sedangkan sakan berkaitan dengan ketenangan dan ketenteraman.

Al-Qur’an menggunakan akar kata sakan ketika menjelaskan hubungan suami dan istri:

لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Artinya: “agar kamu merasa tenteram kepadanya.” (QS. ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan keluarga bukan sekadar hidup bersama. Ada tujuan yang lebih dalam, yaitu menghadirkan ketenteraman, cinta, dan kasih sayang. Karena itu, rumah idealnya bukan hanya bait, tetapi menjadi sakan.

Rumah boleh sederhana, tetapi membuat penghuninya merasa aman. Rumah boleh tidak mewah, tetapi di dalamnya ada kasih sayang. Sebaliknya, rumah yang besar dapat kehilangan maknanya jika penghuninya hidup dalam ketakutan.

Rumah Adalah Madrasah Pertama

Anak pertama kali belajar dari rumah. Sebelum mengenal guru di sekolah, ia mengenal ayah dan ibunya. Sebelum memahami banyak aturan kehidupan, ia melihat bagaimana orang tuanya menjalani kehidupan sehari-hari.

Anak melihat bagaimana ayah berbicara kepada ibu. Ia melihat bagaimana ibu memperlakukan ayah. Ia mendengar bagaimana orang tua berbicara ketika sedang marah. Ia melihat bagaimana masalah diselesaikan. Semua itu menjadi pelajaran. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya memberikan nasihat. Nasihat memang penting, tetapi perilaku orang tua sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada kata-kata.

Orang tua yang ingin anaknya jujur harus membiasakan kejujuran di rumah. Orang tua yang ingin anaknya santun harus berbicara dengan santun. Orang tua yang ingin anaknya rajin shalat harus menunjukkan bahwa shalat memang penting dalam kehidupannya.
Begitu juga dengan Al-Qur’an. Sulit meminta anak mencintai Al-Qur’an jika ia tidak pernah melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Sulit meminta anak menghormati orang lain jika setiap hari ia mendengar penghinaan di rumah.

Pendidikan anak, dengan demikian, sebenarnya dimulai dari kehidupan orang tuanya. Anak belajar dari apa yang ia lihat, bukan hanya dari apa yang ia dengar.

Abdurrahman an-Nahlawi menempatkan keluarga sebagai salah satu lingkungan penting dalam pendidikan Islam. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di rumah dan masyarakat. Gagasan tersebut sejalan dengan kenyataan bahwa rumah menjadi lingkungan pendidikan pertama yang membentuk kebiasaan dan kepribadian anak.

Keteladanan Lebih Kuat Daripada Nasihat

Dalam pendidikan Islam, keteladanan atau qudwah mempunyai kedudukan penting. Nabi Muhammad Saw tidak hanya mengajarkan kebaikan melalui perkataan, tetapi juga memperlihatkannya melalui kehidupan beliau.

Hal yang sama berlaku dalam keluarga. Orang tua mungkin mengatakan, “Jangan mudah marah.” Tetapi jika setiap persoalan diselesaikan dengan bentakan, anak akan lebih mudah mengingat bentakan daripada nasihat.

Orang tua mungkin berkata, “Hormatilah orang lain.” Tetapi jika anak setiap hari melihat penghinaan di rumah, perilaku itulah yang akan lebih mudah ditirunya. Karena itu, ada satu pertanyaan yang perlu sering diajukan orang tua: Apakah perilaku saya sudah layak menjadi contoh bagi anak saya? Pertanyaan ini penting karena anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang pandai mengajarkan kebaikan. Mereka membutuhkan orang tua yang berusaha menjalankan kebaikan tersebut.

Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah li ath-Thifl membahas pendidikan anak berdasarkan metode Nabi saw, termasuk perhatian, keteladanan, pembiasaan, nasihat, dialog, kisah, dan berbagai pendekatan pendidikan lainnya.

Pesan penting dari pendekatan tersebut adalah bahwa pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui kata-kata. Anak membutuhkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Bait Menuju Sakan

Rumah yang baik bukan berarti rumah yang tidak pernah memiliki masalah. Setiap keluarga pasti memiliki persoalan. Suami dan istri dapat berbeda pendapat. Anak dapat melakukan kesalahan. Orang tua dapat kehilangan kesabaran. Yang penting adalah bagaimana masalah itu diselesaikan. Di sinilah makna sakan menjadi penting.

Sakan bukan berarti rumah tanpa masalah. Sakan adalah rumah yang tetap memberikan rasa aman ketika masalah datang. Anak masih berani bercerita. Anak masih berani mengakui kesalahan. Anak masih merasa nyaman meminta pertolongan kepada orang tua. Anak tidak melihat rumah sebagai tempat yang harus ditakuti.

Al-Qur’an menyebut mawaddah dan rahmah dalam hubungan suami dan istri. Cinta membuat pasangan saling menyayangi, sedangkan rahmah membuat mereka tetap saling menjaga ketika menghadapi kesulitan. Keduanya sangat penting dalam kehidupan keluarga.

Rumah yang penuh mawaddah membuat anak merasakan cinta. Rumah yang penuh rahmah membuat anak belajar bahwa hubungan tidak dibangun dengan saling menyakiti. Karena itu, membangun keluarga bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan fisik. Ada kebutuhan yang tidak kalah penting: rasa aman, perhatian, penghargaan, dan ketenangan. Inilah perjalanan dari bait menuju sakan.

Prophetic Ta’dib Dimulai dari Orang Tua

Ta’dib berkaitan dengan pembentukan adab. Anak tidak cukup hanya menjadi pintar. Ia perlu tumbuh menjadi manusia yang mengetahui bagaimana bersikap kepada Allah swt, kepada orang tua, kepada sesama, dan kepada lingkungan. Tetapi adab tidak cukup diajarkan melalui perintah. Anak perlu melihatnya.

Jika orang tua ingin anak menghormati orang lain, orang tua harus menunjukkan penghormatan. Jika ingin anak meminta maaf, orang tua juga harus berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Jika ingin anak berbicara dengan lembut, kelembutan harus menjadi bagian dari komunikasi keluarga. Jika ingin anak mencintai Al-Qur’an, kecintaan kepada Al-Qur’an harus terlihat dalam kehidupan orang tua. Di sinilah Prophetic Ta’dib menemukan maknanya.

Pendidikan anak dimulai dari pendidikan orang tua terhadap dirinya sendiri. Rumah menjadi tempat pertama pembentukan adab. Keteladanan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Abdullah Nashih Ulwan dalam Tarbiyat al-Awlad fi al-Islam membahas pendidikan anak secara luas, termasuk pendidikan iman, akhlak, fisik, intelektual, psikologis, dan sosial.

Maka sebelum sibuk mencari metode untuk memperbaiki anak, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apa yang setiap hari dilihat anak dari kita? Apakah mereka melihat kejujuran? Apakah mereka melihat kesabaran? Apakah mereka melihat kasih sayang? Apakah mereka melihat orang tua yang mau mengakui kesalahan? Apakah mereka melihat Al-Qur’an dan shalat menjadi bagian dari kehidupan keluarga?

Jika semua itu hadir di rumah, sebenarnya kita sedang mendidik anak, bahkan ketika kita tidak sedang memberikan nasihat.

Penutup: Dari Rumah Tumbuh Keteladanan

Kita berharap anak-anak tumbuh menjadi generasi yang saleh, berakhlak, cerdas, mandiri, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Namun harapan itu harus dimulai dari rumah. Sekolah penting, begitu ingkungan penting. Teknologi juga memberikan pengaruh besar. Tetapi rumah tetap menjadi tempat pertama anak mengenal kehidupan.

Karena itu, mari menjadikan rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat yang memberikan ketenangan. Bukan hanya sekedar bait, tetapi juga sebagai sakan melahirkan kenyamanan.

Mari membangun rumah yang membuat anak merasa dicintai, dihargai, didengar, dan diarahkan. Mari menghadirkan keteladanan sebelum memberikan nasihat. Sebab anak mungkin tidak selalu mengingat apa yang kita katakan. Tetapi mereka akan membawa banyak hal yang mereka lihat dan rasakan dari rumah.

Pada akhirnya, semua langkah besar peradaban selalu kembali pada satu titik mula yang bersahaja yaitu ruang keluarga di dalam rumah kita. Rumah bukanlah sekadar bangunan tempat berteduh, melainkan rahim tempat nilai-nilai luhur disemai melalui keteladanan nyata orang tua sehari-hari. Ketika keteladanan itu hidup dan mengakar, ia menjelma menjadi adab yang menuntun tutur kata, sikap, dan keputusan anak-anak kita. Dari sinilah lahir sebuah generasi yang tangguh, generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga anggun dalam akhlak dan budi pekerti. Mengubah dunia tidak harus dimulai dari panggung-panggung besar, melainkan dari meja makan dan ruang tamu tempat kita mendidik dengan ketulusan. Sebab dari generasi yang beradab itulah, insyaallah, fajar masa depan yang lebih baik, lebih damai, dan penuh berkah akan terbit menemani langkah mereka.

SUMBER BACAAN

  1. Al-Quran al-Karim
  2. Al-’Askari, Abu Hilal al-Hasan bin ’Abdullah. Al-Furuq al-Lughawiyyah. Beirut, Lebanon: Dār al-Kutub al-’Ilmiyah. 2000
  3. An-Nahlawi, Abdurrahman. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press, 1994.
  4. Suwaid, Muhammad Nur Abdul Hafizh. Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah li ath-Thifl. Dār Ibn Kathir. 2000.
  5. Ulwan, Abdullah Nashih. Tarbiyat al-Awlad fi al-Islam. Kairo: Dār al-Salam, 1981.

Dr. Arman Husni

Dr. H. Arman Husni, Lc, MA merupakan akademisi dan dosen pada UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Ia aktif dalam kajian keislaman, pendidikan, serta isu sosial-keumatan melalui tulisan dan kegiatan akademik.

Related Articles

Back to top button