Kolom

Pembangunan Perumahan dan Kawasan Ekonomi Industri Terintegrasi: Mengintip Cara Malaysia

Abdullah A. Afifi
– Ketua Biro Cendekiawan Minang Malaysia
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri

Pembangunan daerah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, menghadapi persoalan klasik, ada tetapi tidak memberikan kesan yang masif. Perumahan domisili ada tanpa kawasan ekonomi yang hidup, tanpa basis industri ekonomi yang jelas. Kawasan industri berdiri, tetapi tidak terhubung dengan sistem sosial dan hunian masyarakat. Inilah yang kemudian terjadinya fragmentasi pembangunan, yakni ketika berbagai elemen tumbuh sendiri-sendiri tanpa terintegrasi.

Pembangunan daerah sepatutnya tidak lagi cukup diukur dari seberapa banyak proyek yang terwujud, tetapi dari seberapa kuat keterhubungan antar-elemen ekonomi potensial yang produktif. Sumatera Barat, dengan segala potensi sumber daya manusia dan jejaring ekonominya, saat ini juga masih menghadapi tantangan mendasar: pembangunan yang berjalan, namun tidak memberikan stimulus terhadap pertumbuhan potensi lainnya. Perumahan tumbuh di satu sisi, kawasan ekonomi di sisi lain, sementara konektivitas antara keduanya sering kali lemah. Inilah wajah ketertinggalan yang tidak kasat mata, tetapi berdampak besar pada daya saing daerah.

Di tengah tantangan tersebut, muncul pertanyaan penting, apakah Sumatera Barat dapat keluar dari pola pembangunan yang terfragmentasi menuju model yang lebih terintegrasi? Dalam konteks ini, gagasan perumahan dan kawasan ekonomi industri terintegrasi patut menjadi opsi yang relevan, bahkan dapat dikatakan mendesak. Ia bukan sekadar konsep tata ruang, tetapi strategi pembangunan yang dapat mengubah struktur ekonomi daerah secara lebih mendasar. Juga, paradigma ini akan merubah bagaimana masyarakat dalam mengembangkan tanah dan kawasan domisilinya.

Belajar dari Model Pengembangan Negara Bagian di Malaysia

Pengalaman negara tetangga menunjukkan bahwa integrasi adalah kunci. Di Selangor, pembangunan kawasan tidak dilakukan secara parsial. Pemerintah negara bagian memiliki kewenangan yang kuat dalam pengelolaan tanah, tata ruang, dan perizinan, sehingga mampu merancang kawasan berbasis masterplan jangka panjang. Kawasan industri, perumahan, pusat komersial, dan fasilitas publik dibangun dalam satu ekosistem kawasan yang saling mendukung.

Demikian pula di Negeri Sembilan, pendekatan kota satelit menjadi strategi utama. Kota-kota kecil dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan baru dengan integrasi antara hunian, aktivitas ekonomi, dan infrastruktur. Hasilnya bukan hanya pertumbuhan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas hidup dan daya tarik investasi.

Kunci keberhasilan kedua wilayah ini terletak pada satu hal, yakni optimalisasi kewenangan otonomi daerah yang nyata dan efektif. Pemerintah lokal tidak hanya menjadi administrator, tetapi juga arsitek pembangunan, membangun konsistensi regulasi yang dapat diandalkan.

Menariknya, model kawasan terintegrasi sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah pengembang swasta juga telah mencoba lebih dahulu menerapkan konsep ini melalui pembangunan kota-kota satelit di sekitar metropolitan. Kawasan seperti Bintaro Jaya, BSD City, Lippo Cikarang, Lippo Karawaci, Kawasan Industri MM2000, dan juga Kawasan Jababeka.

Namun, ada satu catatan penting, model ini berkembang karena kekuatan swasta, bukan karena desain kebijakan daerah yang dibangun secara sistemik. Pemerintah lebih berperan sebagai pemberi izin, bukan sebagai arsitek kawasan. Sebab itu model pengembangan di Malaysia patut menjadi perhatian.

Momentum Transformasi Sumatera Barat

Untuk keluar dari situasi ini, Sumatera Barat perlu mengadopsi pendekatan kawasan ekonomi dan perumahan yang terintegrasi. Dalam model ini, pembangunan tidak lagi dipisahkan antara sektor ekonomi dan sektor hunian, tetapi dirancang sebagai satu kesatuan. Lahan-lahan baru dipersiapkan dan hanya bisa dikembangkan jika memenuhi prasyarat model konsep ini.

Kawasan terintegrasi ini setidaknya memerlukan empat prasyarat: (1) kawasan industri atau ekonomi dibangun bersamaan dengan perumahan pekerja, (2) fasilitas umum, pendidikan, kesehatan, dan komersial disiapkan sejak awal, (3) konektivitas transportasi menjadi bagian penting dari desain kawasan, dan yang paling penting, (4) seluruh kawasan dirancang dalam satu visi jangka panjang.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pembangunan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang hidup. Tenaga kerja tidak perlu bermigrasi jauh, biaya logistik menurun, dan interaksi ekonomi menjadi lebih dinamis.

Dalam konteks persaingan ekonomi regional, daerah yang mampu membangun kawasan terintegrasi akan memiliki keunggulan yang signifikan. Mereka tidak hanya menawarkan lahan atau tenaga kerja, tetapi juga ekosistem yang siap tumbuh.

Jika diterapkan dengan serius, model perumahan dan kawasan industri terintegrasi dapat menjadi titik balik bagi Sumatera Barat. Ia tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperbaiki struktur sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Lebih jauh lagi, pendekatan ini dapat menjadikan Sumatera Barat sebagai contoh pembangunan daerah yang inovatif di luar Jawa, sebuah wilayah yang tidak hanya mengandalkan tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika ekonomi modern.

Sumatera Barat memiliki peluang untuk mengambil peran ini, terutama sebagai pusat pertumbuhan alternatif di luar Jawa. Dengan peran strategis di Sumatera, kekuatan budaya ekonomi masyarakat, dan dukungan diaspora yang luas, transformasi menuju pembangunan berbasis kawasan atau kluster bukanlah sesuatu yang utopis.

Asa dan Harapan

Mari kita sama-sama mengingat ketertinggalan ataupun kemajuan bukanlah kondisi yang permanen. Ia adalah refleksi dari cara kita merancang pembangunan. Fragmentasi pembangunan bukanlah takdir, melainkan konsekuensi dari pilihan kebijakan. Dan seperti halnya pilihan, ia dapat diubah. Sumatera Barat pernah maju ataupun juga terseok-seok. Tetapi kita meyakini Sumatera Barat memiliki semua prasyarat untuk maju, kecuali satu hal yang paling menentukan, yakni cara pandang yang terintegrasi dan kecepatan mewujudkan integrasi tersebut. Kawasan ekonomi dan perumahan terintegrasi menawarkan jalan keluar yang realistis dan strategis bagi Sumatera Barat. Tantangannya kini adalah bagaimana menggeser model tersebut dari sekadar inisiatif bisnis menjadi kebijakan pembangunan daerah. Bagi Sumatera Barat, inilah salah satu jalan paling rasional untuk keluar dari ketertinggalan, menuju masa depan yang lebih terstruktur, produktif, dan berdaya saing.

Kuala Lumpur, 11 April 2026

Abdullah A Afifi

Abdullah A. Afifi, ST., HDip., MT. adalah seorang praktisi akademisi, peneliti ekonomi islam dan pembangunan regional, serta peminat sejarah dan literasi.

Related Articles

Back to top button