Kolom

Menjual Sekam ke Ibukota! Merebut Potensi Ekonomi Hijau

Abdullah A. Afifi
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri

Ada pemandangan yang terlalu sering kita anggap biasa di daerah: tumpukan sekam padi yang dibiarkan menggunung di pinggir penggilingan, dan atau dibakar begitu saja untuk disingkirkan disaat masa paska panen.

Asapnya kemudian mengepul, tidak sampai membuat sesak, tetapi jelas nilainya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya abu dan peluang yang terbuang.

Di Kota, bahan yang sama justru sedang dicari

Di tengah meningkatnya tren gaya hidup hijau. Permintaan akan media tanam organik, pupuk alami, hingga bahan ramah lingkungan melonjak tajam. Balkon apartemen berubah menjadi kebun kecil. Komunitas-komunitas urban farming tumbuh, dan produk berbasis limbah organik menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari kelas menengah.

Ironisnya, banyak dari bahan baku ini melimpah dan berasal dari desa dan kawasan suburban. Bahan baku ini kemudian kembali ke kota dalam bentuk produk yang memiliki nilai jual dan minat yang tinggi. Di sinilah peluang. Sekam yang dibakar di desa, justru dijual mahal di kota.

Selama ini, sekam diposisikan sebagai sisa produksi. Setelah padi digiling, fokus kemudian beralih kepada beras. Sekam dianggap tidak bernilai, menjadi sekadar limbah yang harus disingkirkan kemudian. Cara pandang ini, membuat kita kehilangan satu sumber ekonomi yang sebenarnya sangat potensial di masa ini.

Dalam perspektif ekonomi hijau, sekam adalah bahan baku, bukan limbah!

Sekam dapat diolah menjadi arang sekam yang sangat diminati sebagai media tanam. Arang sekam berkarakter ringan, porous, mampu menyimpan air, dan mendukung pertumbuhan akar. Ia juga bisa menjadi campuran pupuk organik, bahan baku briket biomassa, hingga menjadi material pendukung produk biodegradable. Dengan pengolahan sederhana, nilai sekam bisa berlipat ganda.

Perlunya keberanian untuk menangkap peluang dan melihatnya dengan cara baru. Kita terjebak dalam logika lama, dimana produksi utama dijual, sisanya dibuang. Padahal dalam ekonomi hari ini, justru “sisa” itulah yang sering menjadi sumber nilai baru ataupun penambah valuasi nilai yang sudah ada. Dunia sedang bergerak ke arah ekonomi sirkular, di mana tidak ada limbah, hanya sumber daya yang terus dimanfaatkan sehabis-habis nilainya.

Jika sekam terus dibakar, maka yang hilang bukan hanya potensi ekonomi, tetapi juga kesempatan daerah untuk masuk dalam arus besar ekonomi hijau. Permintaan akan terus diisi oleh pihak yang siap, termasuk dari rantai pasok global. Ini baru sekam, belum lagi limbah-limbah pertanian lainnya.

Menjual sekam ke ibukota harus dimaknai sebagai langkah strategis untuk membangun  ekosistem sirkular. Dan ini bukan sekadar transaksi jual beli biasa. Ini tentang bagaimana kita membaca arah pasar, lalu masuk dengan produk yang relevan.

Ini bukan sekadar menjual sekam mentah, tetapi menjual produk turunan dari limbah yang pada awalnya tidak bernilai. Produk seperti arang sekam kemasan, media tanam siap pakai, pupuk organik berbasis sekam, hingga paket urban farming, semua dapat dikemas dengan rapi dan menciptakan nilai baru yang diminta oleh pasar-pasar ekonomi hijau.

Pasar ramah lingkungan yang sedang bertumbuh

Eekosistem produksi di daerah yang mampu menjawab permintaan itu harus dibangun secara konsisten. Di sinilah peran koperasi, BUMDes, dan wirausaha lokal menjadi krusial. Produksi harus terorganisir, kualitas dijaga, dan distribusi diperkuat, juga melalui platform digital yang memungkinkan akses langsung ke konsumen kota.

Lebih dari itu, daerah juga harus belajar membangun narasi. Konsumen hari ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga cerita. Sekam yang diolah di desa, oleh komunitas petani, dengan prinsip ramah lingkungan, itu bukan sekadar barang, tetapi identitas. Dan identitas itulah dalam dunia pemasaran digital saat ini yang memiliki nilai jual tinggi.

Namun ada satu jebakan yang harus dihindari. Jangan sampai daerah kembali hanya menjadi pemasok bahan mentah. Jika sekam dijual murah ke pihak lain yang kemudian mengemasnya sebagai produk “eco-friendly”, maka kita hanya mengulang kesalahan lama dalam kemasan baru. Karena itu, kunci utamanya adalah menguasai nilai dan produksi, bukan sekadar memindahkan barang.

Menjual sekam ke ibukota adalah tentang mengubah posisi sebagai aktor ekonomi. Dari produsen limbah menjadi produsen solusi dan produk. Dari pihak yang membuang menjadi pihak yang menentukan harga. Dari pihak yang tertinggal menjadi pihak yang membaca ekonomi masa depan.

Jika ini dilakukan secara serius, maka yang selama ini dianggap tidak berguna justru bisa menjadi sumber pendapatan baru yang berkelanjutan. Desa tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga menjual inovasi.

Payakumbuh, 10 Mei 2026

Abdullah A Afifi

Abdullah A. Afifi, ST., HDip., MT. adalah seorang praktisi akademisi, peneliti ekonomi islam dan pembangunan industri regional, serta peminat sejarah dan literasi.

Related Articles

Back to top button