Kolom

Membaca Gejolak Psikologi Publik dalam Media Sosial

Abdullah A. Afifi
– Peneliti Industri dan Sosial
– Direktur Darulfunun Institute

Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah berkembang menjadi ruang publik baru yang memengaruhi cara masyarakat memahami dan menafsirkan realitas sosial. Informasi tidak lagi diterima secara pasif, tetapi dibentuk melalui interaksi, komentar, respons emosional, dan proses berbagi yang berlangsung secara masif.

Sosiolog komunikasi Manuel Castells menyebut era ini sebagai network society, yaitu masyarakat yang struktur sosialnya semakin dibentuk oleh jaringan informasi digital. Dalam konteks tersebut, persepsi publik terhadap suatu peristiwa tidak hanya ditentukan oleh fakta objektif, melainkan juga oleh bagaimana fakta tersebut diproduksi, disebarkan, dan dimaknai dalam ruang digital. Akibatnya, suatu peristiwa dapat terlihat jauh lebih besar, lebih mengkhawatirkan, atau bahkan lebih menjanjikan daripada kondisi yang sebenarnya.

Fenomena tersebut terlihat hampir setiap hari. Ketika nilai tukar rupiah melemah, misalnya, media sosial dipenuhi narasi yang menggambarkan keadaan seolah berada di ambang krisis besar. Sebaliknya, ketika rupiah kembali menguat, sebagian pihak membangun narasi kemenangan yang berlebihan, seakan seluruh persoalan ekonomi telah terselesaikan. Pada saat yang sama, kenaikan harga kebutuhan pokok atau bahan bakar dapat menjadi pemicu gelombang keresahan yang diperkuat oleh ribuan komentar, unggahan, dan opini yang saling beresonansi.

Media sosial pada dasarnya bukan hanya tempat bertukar informasi, melainkan juga ruang ekspresi psikologi kolektif. Apa yang ramai diperbincangkan sering kali mencerminkan harapan, ketakutan, kecemasan, kemarahan, maupun optimisme yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Dalam perspektif ini, media sosial dapat dibaca sebagai “termometer sosial” yang menunjukkan suhu psikologis publik secara real time.

Namun demikian, termometer tidak selalu menggambarkan keadaan secara utuh. Algoritma media sosial memiliki kecenderungan mengangkat konten yang memicu emosi kuat. Konten yang menimbulkan kemarahan, ketakutan, atau kekhawatiran sering kali memperoleh tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dibandingkan informasi yang disampaikan secara tenang dan proporsional. Akibatnya, persepsi publik dapat terdistorsi. Keadaan yang sebenarnya masih dalam batas wajar dapat terlihat sangat mengkhawatirkan. Sebaliknya, persoalan yang memerlukan perhatian serius dapat tertutupi oleh narasi yang terlalu optimistis.

Karena itu, membaca media sosial memerlukan kehati-hatian. Ramainya percakapan bukan berarti seluruh masyarakat memiliki pandangan yang sama. Trending topic bukan selalu representasi kondisi objektif. Yang terlihat di layar sering kali merupakan amplifikasi dari sebagian suara yang paling aktif, paling emosional, atau paling terorganisasi.

Meski demikian, media sosial tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai sumber masalah. Jika digunakan secara bijaksana, media sosial justru dapat menjadi instrumen penting untuk membangun optimisme sosial yang konstruktif. Optimisme yang dimaksud bukanlah pencitraan atau propaganda, melainkan kemampuan menghadirkan informasi yang benar, jujur, dan memberi harapan. Masyarakat membutuhkan alasan untuk percaya bahwa tantangan dapat dihadapi, bahwa masalah dapat diselesaikan, dan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.

Dalam dunia pemasaran modern dikenal prinsip bahwa pemasaran yang berkelanjutan tidak dibangun di atas manipulasi persepsi, melainkan pada nilai yang nyata. Tokoh pemasaran terkemuka, Philip Kotler, berulang kali menekankan pentingnya kepercayaan dan nilai autentik dalam membangun hubungan jangka panjang dengan publik. Dalam semangat tersebut, pemasaran yang baik pada hakikatnya adalah pemasaran tentang kebenaran, menyampaikan realitas apa adanya, menjelaskan tantangan secara jujur, sekaligus menunjukkan peluang dan solusi yang tersedia.

Prinsip yang sama seharusnya berlaku dalam komunikasi publik. Pencitraan yang berlebihan berisiko menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Ketika realitas tidak sesuai dengan narasi yang dibangun, kepercayaan publik dapat terkikis. Sebaliknya, membiarkan keresahan berkembang tanpa arah juga bukan pilihan yang bijaksana. Narasi yang terus-menerus menekankan ancaman, kegagalan, dan pesimisme dapat melahirkan kelelahan sosial serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan.

Yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Pemerintah, media, akademisi, tokoh masyarakat, dan pengguna media sosial perlu berkontribusi dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Masalah harus disampaikan secara terbuka, tetapi juga diiringi dengan penjelasan yang utuh. Keberhasilan perlu diapresiasi, tetapi tanpa mengabaikan pekerjaan rumah yang masih tersisa. Kritik harus tetap hidup, namun diarahkan untuk perbaikan, bukan sekadar memperbesar keresahan.

Pada akhirnya, media sosial adalah cermin sekaligus pembentuk psikologi publik. Ia memantulkan apa yang dirasakan masyarakat, sekaligus memengaruhi apa yang akan dirasakan masyarakat berikutnya. Oleh karena itu, kemampuan membaca gejolak psikologi publik menjadi semakin penting di era digital. Kita perlu belajar membedakan antara fakta dan amplifikasi, antara optimisme yang sehat dan pencitraan, antara kritik yang konstruktif dan kepanikan yang tidak produktif.

Di tengah arus informasi yang semakin deras, tantangan terbesar bukan lagi sekadar memperoleh informasi, melainkan menjaga kewarasan kolektif dalam memaknainya. Sebab masa depan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kondisi objektif yang dimilikinya, tetapi juga oleh cara masyarakat memandang dan merespons kondisi tersebut.

Abdullah A Afifi

Abdullah A. Afifi, ST., HDip., MT. adalah seorang praktisi akademisi, peneliti ekonomi islam dan pembangunan industri regional, serta peminat sejarah dan literasi.

Related Articles

Back to top button