Kolom

Melaka Ranah Pertarungan Ekonomi Politik

Dr. Iramady Irdja

Kota tua Malaka, yang kemudian berubah menjadi “Melaka” sesuai aksen kolonial. Sama halnya dengan “Malayu” yang menjadi “Melayu”. Suasana kota malam menjelang 1 Mei 2026, jalanan macet hampir disetiap persimpangan jalan. Melaka menjadi salah satu kota tujuan hari libur dari Kuala Lumpur, Seremban, dan Johor Bahru. Mirip dengan Bogor yang selalu padat pada hari libur.

Melaka didirikan oleh Parameswara dari Sriwijaya sekitar tahun 1400, merupakan pusat perdagangan kosmopolitan yang strategis di Selat Malaka, menghubungkan Timur dan Barat.

Sejarah panjang Melaka antara abad ke-14 hingga ke-17 bukan sekadar narasi tentang pelabuhan yang ramai, melainkan sebuah studi kasus ekonomi politik yang kompleks mengenai bagaimana kekuasaan dibangun di atas kendali komoditas dan jaringan diaspora dari Indonesia.

Perantau Minang menyusuri sungai-sungai besar dari daratan tinggi (Luhak nan Tigo) menuju pesisir timur Sumatera, seperti sungai Rokan, Siak, Kampar, dan Batang Kuantan. Dengan semangat sebagai petarung ekonomi politik mereka menyeberangi Selat Malaka menuju Semenanjung Malaya.

Pada abad ke-16, perantau mulai menetap di kawasan Naning, Rembau, dan sekitarnya (sekarang wilayah Negeri Sembilan).

​Berikut analisis dari perspektif ekonomi politik mengenai peran pedagang Minangkabau dalam ekosistem tersebut:

Pertama, Melaka berfungsi sebagai entrepot, namun kekuatannya sangat bergantung pada stabilitas pasokan dari pedalaman (hinterland). Pedagang Minangkabau memegang peran kunci sebagai penyambung lidah antara produsen di dataran tinggi Sumatra dengan pasar global di pesisir Semenanjung. (a). Monopoli Emas: Emas dari wilayah seperti Pagaruyung adalah instrumen likuiditas utama dalam perdagangan internasional saat itu. Kehadiran pedagang Minangkabau memastikan Melaka memiliki cadangan “mata uang” yang stabil untuk bertransaksi dengan pedagang Gujarat, Arab, dan Tiongkok. (b). Hasil Bumi sebagai Daya Tawar: Rempah, damar, dan hasil hutan lainnya menjadi komoditas barter yang menempatkan komunitas Minangkabau pada posisi strategis dalam negosiasi harga di pasar lokal.

Kedua, dari sisi politik, hubungan antara kesultanan Melaka dan diaspora Minangkabau menciptakan model tata kelola yang unik: (a). Ekonomi Berbasis Komunitas (Koperasi Proto): Jaringan perdagangan Minangkabau sering kali beroperasi melalui ikatan kekeluargaan dan persukuan yang kuat. Ini menciptakan sistem kepercayaan (trust) yang menurunkan biaya transaksi—sebuah elemen penting dalam ekonomi sebelum adanya hukum kontrak modern. (b). Pengaruh Politik di Pedalaman: Kekuasaan Melaka tidak hanya ditentukan oleh meriam di pantai, tetapi juga oleh diplomasi dengan tokoh-tokoh dari Sumatra. Integrasi ini memungkinkan Melaka memitigasi risiko blokade pasokan pangan dan komoditas dari arah Barat.

Ketiga, Melaka menerapkan Undang-Undang Laut Melaka yang memberikan kepastian hukum bagi para pedagang. (a). Ekstraksi Pendapatan: Sultan memperoleh pendapatan dari bea cukai (tariff), namun keberlanjutan ekonomi ini sangat bergantung pada kepatuhan pedagang besar seperti kelompok Minangkabau. (b). Stabilitas Kawasan: Kerja sama ekonomi politik ini menciptakan stabilitas di Selat Melaka, menjadikannya jalur perdagangan paling aman dan paling menguntungkan di dunia pada masanya, jauh sebelum dominasi VOC di abad ke-17.

Keempat, masuknya bangsa Eropa (Portugis kemudian Belanda) mengubah peta ekonomi politik ini. Upaya Portugis untuk memonopoli perdagangan seringkali berbenturan dengan jaringan perdagangan bebas yang sudah mapan. Banyak pedagang Minangkabau yang kemudian mengalihkan jalur perdagangan mereka atau memperkuat pusat-pusat ekonomi baru (seperti Johor, Temasek, Batubara, P. Pinang, atau Aceh) sebagai bentuk resistensi terhadap merkantilisme Eropa yang restriktif.

Melaka pada era tersebut membuktikan bahwa kedaulatan ekonomi politik sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan wilayah, tetapi oleh kemampuan mengelola jaringan distribusi dan menjaga kepercayaan para pelaku pasar strategis.

Melaka dan sekitarnya menawarkan pembelajaran tentang bagaimana Diaspora Minangkabau berkontribusi pada pembentukan peradaban di Malaysia, sekaligus menjadi cermin bagi Generasi Muda Indonesia untuk memperkuat jati diri dan semangat merantau yang positif.

Semoga bermanfaat dan terinspirasi…

Melaka, 1 Mei 2026

Dr. Iramady Irdja

Dr. Iramady Irdja, SE, M.Sc, M.Si adalah seorang akademisi, praktisi perbankan, dan tokoh perantau Minangkabau yang dikenal ahli dalam bidang keuangan dan ekonomi syariah.

Related Articles

Back to top button