Bersama Menjaga Fasilitas Umum
Beberapa hari lalu kita melihat aksi demo besar-besaran. Suara massa memang perlu didengar, tapi sayangnya ada juga kejadian di mana fasilitas umum ikut jadi korban. Kita tidak tahu siapa yang tega merusak fasilitas umum, apakah pendemo, aparat atau komplotan oknum yang menyelinap dalam massa. Trotoar rusak, halte terbakar, bahkan taman kota ikut berantakan. Padahal, fasilitas umum itu bukan saja milik sebagian kita semata, melainkan milik kita semua.
Bayangkan kalau besok kamu harus berangkat kuliah, tapi halte yang biasanya jadi tempat menunggu bus sudah hangus. Atau ketika mau nongkrong di taman, ternyata bangkunya patah karena kerusuhan. Yang rugi bukan pejabat, bukan aparat, tapi justru masyarakat, dan itu termasuk kita sendiri. Terlebih jika memakan korban, bisa jadi kawan ataupun keluarga kita, tentu hal ini sama-sama tidak kita inginkan.
Fasilitas umum adalah ruang bersama. Trotoar untuk berjalan, taman untuk bersantai, lampu jalan untuk keamanan, dan transportasi publik untuk mobilitas kita sehari-hari. Semua itu dibangun dengan uang rakyat, lewat pajak yang juga berasal dari masyarakat kita, bahkan juga dari kita sendiri. Jadi kalau fasilitas umum rusak, secara tidak langsung, kita membayar kerugiannya dua kali.
Demo adalah hak demokrasi, itu jelas. Kita boleh menyuarakan pendapat, menuntut keadilan, bahkan menekan penguasa agar tidak semena-mena. Tapi membedakan antara protes dan perusakan itu penting. Ketika protes berubah jadi merusak fasilitas umum, pesan yang ingin disampaikan justru bisa hilang tertutup amarah dan kerugian sosial.
Aparat dan pejabat juga penting untuk memberikan ruang untuk demokrasi ini berkembang. Jangan justru aparat yang ikut merusak fasilitas umum, walaupun dengan dalih penertiban. Kerusakan di ruang publik sepatutnya menjadi satu standar operasi kerja yang harus dituntut secara ketat. Seriuh dan gemuruh apapun demo, standar ini perlu dijaga.
Kita juga harus sadar, dalam setiap keramaian selalu ada pihak yang sengaja menciptakan kerusuhan. Mereka ini memang hobinya merusak, biang masalah yang memanfaatkan momen untuk membuat suasana kacau. Karena itu, sebisa mungkin kita hindari terjebak dalam provokasi, sekaligus kita jaga bersama, baik massa ataupun aparat, agar fasilitas publik agar tidak jadi korban.
Sebagai generasi masa kini yang identik dengan kreativitas dan kepedulian sosial, kita sebenarnya punya peluang besar untuk mengubah cara berdemonstrasi. Bayangkan demo dengan mural seni, musik jalanan, atau aksi damai yang viral di media sosial. Pesannya tetap sampai, tapi fasilitas umum tidak hancur. Malah, masyarakat bisa ikut simpati karena merasa dihargai. Walaupun terkadang pejabat juga perlu pandai mengambil simpati dan menjaga aspirasi masyarakat agar tetap tersalurkan.
Menjaga fasilitas umum bukan berarti kita pasrah atau tidak kritis. Justru dengan merawat ruang publik, kita menunjukkan bahwa kita adalah generasi yang bertanggung jawab dan punya cara lebih cerdas untuk melawan ketidakadilan. Jadi mari kita sama-sama ingat: fasilitas umum adalah cermin kepedulian kita terhadap sesama. Kalau kita jaga, kita juga yang menikmatinya. Mari kita lanjutkan memperjuangkan aspirasi, tapi jangan sampai merusak rumah yang kita huni bersama.