Hikayat Cerita

PETA Dunia Selama Ini Yang Tidak Sepenuhnya Benar

Sejak sekolah, kita terbiasa melihat dunia dengan cara yang hampir sama. Utara selalu di atas, Selatan di bawah, Eropa tampak cukup besar, Afrika terlihat lebih kecil dari yang sebenarnya, sementara negara-negara di sekitar khatulistiwa seperti Indonesia dan Malaysia terlihat begitu mungil. Kita menerima semua itu sebagai gambaran dunia yang biasa. Padahal, peta yang kita lihat sejak kecil bukanlah dunia yang sebenarnya, melainkan salah satu cara manusia memilih untuk menggambarkan dunia.

Salah satu peta yang paling banyak digunakan adalah proyeksi Mercator, yang dibuat oleh kartografer Flemish Gerardus Mercator pada 1569. Peta ini sebenarnya tidak dirancang untuk menunjukkan ukuran benua secara akurat. Ia dibuat terutama untuk membantu pelaut Eropa bernavigasi di lautan. Karena kebutuhan navigasi, wilayah yang semakin jauh dari khatulistiwa dibuat semakin melebar. Akibatnya, Greenland terlihat hampir sebesar Afrika, padahal Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih luas daripada Greenland.

Dari sini kita mulai menyadari sesuatu yang menarik. Bagi kita yang hidup di Asia Tenggara, masalahnya bukan hanya Afrika saja yang terlihat terlalu kecil. Kita sendiri hidup di wilayah yang secara visual sering “dikecilkan” oleh peta. Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya berada di kawasan tropis dan dekat dengan khatulistiwa. Dalam peta Mercator, wilayah-wilayah seperti ini tampak relatif kecil dibandingkan wilayah yang jauh lebih dekat dengan kutub.

Padahal jika kita melihat luas sebenarnya, Indonesia bukanlah negara kecil. Indonesia adalah negara kepulauan yang membentang sangat luas di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Jarak geografis antara bagian barat dan timurnya sangat besar. Malaysia pun bukan sekadar titik kecil di antara Thailand, Indonesia dan Brunei. Asia Tenggara secara keseluruhan merupakan kawasan yang luas, kompleks dan strategis, tetapi gambaran visual pada peta konvensional sering tidak memberi kita intuisi yang cukup mengenai skala tersebut.

Lebih menarik lagi jika kita melihat persoalan ini dari perspektif Melayu. Dunia Melayu terbentang jauh melampaui satu negara. Bahasa, budaya, perdagangan, migrasi dan sejarah masyarakat Melayu menghubungkan Semenanjung Tanah Melayu dengan Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, kepulauan Riau, Brunei dan berbagai wilayah lain di Nusantara. Namun ketika kita melihat peta dunia modern, hubungan geografis dan historis tersebut sering tampak sebagai serpihan-serpihan kecil yang terpisah oleh garis negara.

Padahal, sebelum batas-batas negara modern terbentuk, laut bukan selalu pemisah. Laut justru menjadi penghubung. Orang bergerak, berdagang, menikah, berpindah dan membangun jaringan antarpulau. Dunia Melayu dibentuk oleh mobilitas. Selat Melaka, misalnya, bukan sekadar garis biru pada peta. Ia adalah salah satu jalur peradaban yang menghubungkan berbagai masyarakat, pelabuhan dan pusat perdagangan selama berabad-abad.

Di sinilah peta menjadi lebih dari sekadar gambar geografis. Peta dapat membentuk cara kita memahami hubungan antarruang. Ketika kita melihat Asia Tenggara sebagai sekumpulan negara kecil yang terpisah, kita mungkin lupa bahwa kawasan ini pernah menjadi ruang pergaulan yang sangat dinamis. Orang Minangkabau dapat ditemukan di Semenanjung. Orang Bugis membangun jaringan perdagangan hingga berbagai penjuru Nusantara. Masyarakat Melayu bergerak melintasi selat dan kepulauan jauh sebelum paspor dan pemeriksaan imigrasi modern menjadi bagian dari kehidupan kita.

Karena itu, mungkin kita perlu sesekali melihat dunia dari peta yang berbeda. Equal Earth, misalnya, berusaha menampilkan luas benua dengan lebih proporsional. Dalam peta seperti ini, kita mendapatkan gambaran yang berbeda tentang skala Afrika, Asia, Amerika dan wilayah-wilayah lainnya. Kita mulai melihat bahwa dunia tropis yang selama ini tampak kecil ternyata memiliki ruang yang sangat luas.

Namun, Equal Earth juga bukan peta yang sempurna. Untuk mendapatkan ukuran wilayah yang lebih akurat, proyeksi ini harus mengorbankan sebagian karakteristik yang menjadi keunggulan Mercator. Garis-garis pada Equal Earth tidak dapat digunakan dengan cara yang sama untuk navigasi, dan peta ini juga tidak dapat digunakan untuk mengukur jarak sebenarnya antara dua tempat secara langsung. Profesor James Cheshire dari University College London menjelaskan bahwa kita dapat memilih untuk mempertahankan luas, bentuk, jarak, atau arah, tetapi tidak mungkin mempertahankan semuanya secara sempurna sekaligus pada permukaan datar. Jika semuanya ingin dipertahankan tanpa distorsi, kita pada dasarnya harus kembali kepada bentuk asli bumi, yaitu bola.

Selain Equal Earth, terdapat pula Peters projection yang mencoba memberikan gambaran lebih adil mengenai luas wilayah dunia. Proyeksi ini dikembangkan oleh sejarawan Jerman Arno Peters pada awal 1970-an berdasarkan proyeksi yang sebelumnya telah dijelaskan oleh kartografer Skotlandia James Gall pada tahun 1855. Berbeda dengan Mercator yang mengutamakan arah, Peters mengutamakan ketepatan luas wilayah. Dengan demikian, Afrika dan Greenland dapat ditampilkan dengan perbandingan ukuran yang lebih mendekati kenyataan.

Tetapi sekali lagi, tidak ada solusi yang sempurna. Peters projection mengorbankan ketepatan bentuk. Wilayah-wilayah di sekitar kutub menjadi lebih tertekan, sedangkan wilayah di sekitar khatulistiwa menjadi lebih memanjang. Bentuk negara juga dapat terlihat tidak sebagaimana bentuk geografisnya di permukaan bumi. Rusia, misalnya, tampak lebih kecil dibandingkan ketika ditampilkan dalam Mercator. Selain itu, garis lurus pada Peters tidak menunjukkan arah kompas yang konstan sehingga proyeksi ini tidak cocok untuk kebutuhan navigasi.

Bahkan posisi Utara di bagian atas peta pun sebenarnya hanyalah sebuah kebiasaan. Ada peta yang menempatkan Selatan di bagian atas. Tidak ada hukum alam yang mengatakan bahwa Utara harus berada di atas dan Selatan harus berada di bawah. Kita hanya terbiasa melihatnya demikian.

Mungkin inilah hal paling menarik dari persoalan peta: cara kita melihat dunia ternyata dapat memengaruhi cara kita memahami dunia. Sebuah wilayah yang terlihat kecil bisa terasa tidak penting. Wilayah yang terlihat besar bisa terasa dominan. Wilayah yang terlihat jauh bisa terasa asing. Padahal jarak dan ukuran sebenarnya bisa sangat berbeda.

Bagi masyarakat Asia Tenggara, kesadaran ini penting. Kita hidup di salah satu kawasan paling dinamis di dunia, tetapi terlalu sering melihat diri sendiri dari pinggir peta dunia. Kita terbiasa melihat Eropa dan Amerika sebagai pusat, sementara Asia Tenggara berada di bagian bawah atau sudut peta. Padahal, jika dilihat dari sejarah perdagangan, migrasi, jumlah penduduk, posisi maritim dan pertumbuhan ekonomi, Asia Tenggara bukanlah pinggiran dunia.

Mungkin masalahnya bukan bahwa peta selama ini “salah”. Peta Mercator memiliki tujuan dan fungsi tertentu, terutama untuk navigasi. Persoalannya adalah ketika sebuah cara menggambarkan dunia kemudian menjadi satu-satunya cara kita membayangkan dunia.

Bagi orang yang suka merantau, mungkin ada pelajaran sederhana di sini. Jangan hanya melihat dunia dari peta yang diwariskan kepada kita. Sesekali ubahlah sudut pandang. Lihat dunia dari khatulistiwa. Lihat dari Asia Tenggara. Lihat dari Nusantara. Bahkan lihat dari laut, sebagaimana para perantau dan pelaut dahulu melihat dunia.

Boleh jadi ketika sudut pandang kita berubah, dunia pun terlihat berbeda. Afrika ternyata jauh lebih besar. Indonesia ternyata sangat luas. Asia Tenggara ternyata bukan sekadar kawasan kecil di antara India dan China. Dan dunia Melayu ternyata bukan hanya kumpulan titik yang dipisahkan oleh garis batas negara, tetapi sebuah ruang sejarah yang sejak dahulu dibentuk oleh perjalanan manusia.

Barangkali merantau memang selalu dimulai dari hal sederhana: berani melihat dunia dari sudut yang berbeda.

Trekkers

Jalan-jalan, makan-makan, healing tipis-tipis, sehat dunia dan selamat akhirat :)
Back to top button