Hikayat Cerita

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba di Sulawesi Diduga Mengunyah Pinang sebagai Obat

SULAWESI — Tradisi mengunyah pinang yang hingga kini masih dikenal di berbagai masyarakat Asia ternyata mungkin memiliki sejarah yang sangat panjang. Penelitian arkeologis menunjukkan adanya indikasi bahwa manusia di Sulawesi telah mengonsumsi pinang sekitar 25.000 tahun lalu (Sumber berita BBC).

Temuan tersebut berasal dari penelitian terhadap sisa-sisa manusia purba dan kondisi gigi yang ditemukan di Sulawesi. Pola keausan tertentu pada gigi memberikan petunjuk bahwa mereka kemungkinan melakukan aktivitas mengunyah bahan yang keras atau berserat, termasuk pinang.

Jika interpretasi tersebut benar, temuan ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan tanaman pinang telah berlangsung jauh sebelum berkembangnya pertanian dan masyarakat menetap.

Tradisi yang masih hidup hingga kini

Pinang (Areca catechu) bukan tanaman yang asing bagi masyarakat Asia Tenggara. Penggunaannya secara tradisional telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, Malaysia, Sumatera, Sulawesi, hingga Asia Selatan.

Pinang biasanya dikunyah bersama bahan lain dalam praktik yang dikenal sebagai sirih-pinang atau betel quid. Dalam banyak masyarakat, praktik tersebut bukan sekadar kebiasaan konsumsi, tetapi juga memiliki fungsi sosial, budaya, dan pengobatan tradisional.

Dalam tradisi masyarakat tertentu, sirih dan pinang digunakan dalam berbagai kegiatan adat, penyambutan tamu, hubungan sosial, hingga sebagai bagian dari praktik kesehatan tradisional, termasuk untuk menjaga kebersihan dan kesehatan mulut.

Karena itu, temuan dari Sulawesi menarik bukan hanya karena usianya yang sangat tua, tetapi juga karena memperlihatkan kemungkinan kesinambungan hubungan manusia dengan tanaman yang masih digunakan oleh masyarakat Asia hingga sekarang.

Bukan sekadar soal efek psikoaktif

Pinang mengandung senyawa alkaloid, terutama arekolin, yang memiliki efek fisiologis dan bersifat stimulan. Namun, menyebut tradisi mengunyah pinang semata-mata sebagai bentuk penggunaan zat psikoaktif dapat memberikan gambaran yang terlalu sederhana.

Dalam konteks sejarah dan budaya Asia, pinang memiliki makna yang jauh lebih luas. Ia merupakan bagian dari tradisi pengobatan, adat, interaksi sosial, dan kebudayaan masyarakat. Pinang juga digunakan sebagai menjaga kebersihan mulut dan gigi.

Karena itu, temuan arkeologis tersebut sebaiknya dilihat dalam konteks yang lebih luas: bagaimana manusia purba mengenali, memanfaatkan, dan mewariskan pengetahuan tentang tumbuhan yang tersedia di lingkungan mereka.

Sulawesi dalam sejarah panjang manusia

Sulawesi sendiri merupakan salah satu kawasan penting dalam penelitian mengenai sejarah awal manusia di Asia Tenggara. Berbagai penemuan arkeologis menunjukkan bahwa manusia telah menghuni kawasan ini sejak puluhan ribu tahun lalu dan mengembangkan berbagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan tropis.

Jejak penggunaan pinang menambah satu bagian baru dalam cerita tersebut.

Jika bukti ini terus diperkuat oleh penelitian berikutnya, maka tradisi mengunyah pinang dapat menjadi salah satu contoh menarik tentang panjangnya sejarah pengetahuan manusia terhadap tanaman, dari kehidupan pemburu-peramu hingga tradisi masyarakat Asia masa kini.

Dengan demikian, sepotong pinang yang dikunyah masyarakat Asia hari ini mungkin memiliki cerita yang jauh lebih tua daripada yang selama ini kita bayangkan: sejarah yang terbentang hingga puluhan ribu tahun ke masa lalu.

Sumber: https://www.bbc.com/news/articles/cd792nll91eo

Trekkers

Jalan-jalan, makan-makan, healing tipis-tipis, sehat dunia dan selamat akhirat :)
Back to top button